Jumat, 03 Oktober 2014

Senja di Pantai Carita



Udara sudah mulai terasa dingin,angin laut berhembus menggoyangkan nyiur-nyiur pantai. Deburan ombak bergulung berkejaran membentuk gunungan air, berkilau keemasan tertimpa sinar mentari sore.

Satu-satu pengunjuk mulai beranjak pulang meninggalkan tepi pantai dengan membawa segenggam kenangan untuk dibawa pulang bekal cerita masa mendatang.

Namun bagi para pencinta keindahan sejati, saat-saat menanti terbenamnya sang mentari adalah hal yang sangat menyenangkan. Mereka rela berlama-lama menyaksikan detik-detik perjalanan mentari menuju peraduannya.

Tak terkecuali dengan dua sejoli yang sedang memadu kasih, dibuai asmara, melepas dahaga rindu, sambil merenda harapan hari esok, Neneng dan Ahmad. Tangan keduanya melingkar di pinggang seakan tak ingin lepas dari kehangatan arak cinta dan manisnya madu asmara.

Sementaa angin tetap berhembus menyibakan rambut hitam sang rupawan. Tiada kata-kata yang terucap, hanya pandangan mata yang bercerita tentang kisah cinta mereka. Sejurus kemudian, sang mentari telah benar-benar tenggelalm di ufuk barat tertelan samudera, menyisakan kemilau cinta di langit jingga.

“Kita pulang yuk,” ajak Ahmad, merasa suasana pantai telah sepi.

“Hayu atuh kang,” jawab Neneng manja, sambil beranjak bangun dan membersihkan sisa-sisa pasir putih yang menempel, bekas mereka duduk.

Mereka pun beranjak meninggalkan tempat itu, sambil bergandengan tangan diselingi cubitan mesra Ahmad dan dibalas dengan pelukan mesra Neneng. Music mengalun, simponi dan keidahan bertalu, harmoni tercipta mengiring langkah mereka.

La la la la la la la la
Awan hitam tlah berlalu
Terbitlah kini cahya harapan
Kabut dukatelah sirna
Nampaklah kini pantai harapan
Dag dig dag dug, hatiku dag dig dug
Bar debur de debar, hatiku tak sabar
Lama sudah hayal cinta
sanding berdua di biduk cinta
besar gunung tak sebesar harapanku
tuk menyuntingmu bunga pujaanku
luas laut tak seluas nuraniku
tuk menyambutmu kumbang impianku
satu hari bak sewindu
menanti tiba saat berpadu
seribu kata takkan bisa
mengungkap rindu untuk berpadu
la la la la la la la

suara nyanyian semakin lama semakin pelan, nyaris tak terdengar dan kemudian hilang dari pendengaran, berganti dengan suara kondektur bis yang sedang memanggil penumpang, "Jakarta...Jakarta Neng?"

"Moal mang,"

"Bade kaman atuh?" tanya kondektur lagi. Ahmad diem aja tidak berekasi karena dia kurang paham apa yang mereka ucapkan.

"Cadas Sari," jawab Neneng

"Atuh enya pan lewat ditu, sok atuh"

"hayu kang," ajak Neneng kepada Ahmad

kendaraan mulai bergerak meninggalkan tempat rekreasi, yang menjadi saksi bisu.

"Cikirai -- Cadassari, biar badan bercerai, cintaku takkan lari"

"Cadassari -- Jakarta, hari-hari penuh cinta"

"Punten Neng, A, Ongkos na," kata kondektur.

"cinta kadang membuat mabuk, juga bisa membuat lupa. tapi jangan sampai lupa membayar ongkos dong!" Kata Ki Semprul, mengakhiri ceritanya.
 

(sumber:kisemprul)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar