Udara sudah mulai terasa
dingin,angin laut berhembus menggoyangkan nyiur-nyiur pantai. Deburan ombak
bergulung berkejaran membentuk gunungan air, berkilau keemasan tertimpa sinar
mentari sore.
Satu-satu pengunjuk mulai beranjak pulang meninggalkan tepi pantai
dengan membawa segenggam kenangan untuk dibawa pulang bekal cerita masa
mendatang.
Namun bagi para pencinta keindahan sejati, saat-saat menanti terbenamnya sang mentari adalah hal yang sangat menyenangkan. Mereka rela berlama-lama menyaksikan detik-detik perjalanan mentari menuju peraduannya.
Tak terkecuali dengan dua
sejoli yang sedang memadu kasih, dibuai asmara, melepas dahaga rindu, sambil merenda
harapan hari esok, Neneng dan Ahmad. Tangan keduanya melingkar di pinggang
seakan tak ingin lepas dari kehangatan arak cinta dan manisnya madu asmara.
Sementaa angin tetap
berhembus menyibakan rambut hitam sang rupawan. Tiada kata-kata yang terucap,
hanya pandangan mata yang bercerita tentang kisah cinta mereka. Sejurus
kemudian, sang mentari telah benar-benar tenggelalm di ufuk barat tertelan
samudera, menyisakan kemilau cinta di langit jingga.
“Kita pulang yuk,” ajak
Ahmad, merasa suasana pantai telah sepi.
“Hayu atuh kang,” jawab
Neneng manja, sambil beranjak bangun dan membersihkan sisa-sisa pasir putih
yang menempel, bekas mereka duduk.
Mereka pun beranjak
meninggalkan tempat itu, sambil bergandengan tangan diselingi cubitan mesra
Ahmad dan dibalas dengan pelukan mesra Neneng. Music mengalun, simponi dan
keidahan bertalu, harmoni tercipta mengiring langkah mereka.
La
la la la la la la la
Awan hitam tlah berlalu
Terbitlah kini cahya harapan
Kabut dukatelah sirna
Nampaklah kini pantai harapan
Dag dig dag dug, hatiku dag dig dug
Bar debur de debar, hatiku tak sabar
Lama sudah hayal cinta
sanding berdua di biduk cinta
besar gunung tak sebesar harapanku
tuk menyuntingmu bunga pujaanku
luas laut tak seluas nuraniku
tuk menyambutmu kumbang impianku
satu hari bak sewindu
menanti tiba saat berpadu
seribu kata takkan bisa
mengungkap rindu untuk berpadu
la la la la la la la
suara nyanyian semakin lama semakin pelan, nyaris tak terdengar dan kemudian hilang dari pendengaran, berganti dengan suara kondektur bis yang sedang memanggil penumpang, "Jakarta...Jakarta Neng?"
Awan hitam tlah berlalu
Terbitlah kini cahya harapan
Kabut dukatelah sirna
Nampaklah kini pantai harapan
Dag dig dag dug, hatiku dag dig dug
Bar debur de debar, hatiku tak sabar
Lama sudah hayal cinta
sanding berdua di biduk cinta
besar gunung tak sebesar harapanku
tuk menyuntingmu bunga pujaanku
luas laut tak seluas nuraniku
tuk menyambutmu kumbang impianku
satu hari bak sewindu
menanti tiba saat berpadu
seribu kata takkan bisa
mengungkap rindu untuk berpadu
la la la la la la la
suara nyanyian semakin lama semakin pelan, nyaris tak terdengar dan kemudian hilang dari pendengaran, berganti dengan suara kondektur bis yang sedang memanggil penumpang, "Jakarta...Jakarta Neng?"
"Moal mang,"
"Bade kaman atuh?"
tanya kondektur lagi. Ahmad diem aja tidak berekasi karena dia kurang paham apa
yang mereka ucapkan.
"Cadas Sari,"
jawab Neneng
"Atuh enya pan lewat
ditu, sok atuh"
"hayu kang," ajak
Neneng kepada Ahmad
kendaraan mulai bergerak
meninggalkan tempat rekreasi, yang menjadi saksi bisu.
"Cikirai -- Cadassari,
biar badan bercerai, cintaku takkan lari"
"Cadassari -- Jakarta,
hari-hari penuh cinta"
"Punten Neng, A, Ongkos
na," kata kondektur.
"cinta kadang membuat
mabuk, juga bisa membuat lupa. tapi jangan sampai lupa membayar ongkos
dong!" Kata Ki Semprul, mengakhiri ceritanya.
(sumber:kisemprul)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar