“Cara Kawinan Orang Betawi” begitu
kebanyakan orang bilang, sebuah ritual tradisi “lamaran” yang diselingi seni
buka palang pintu yang di dalamnya terdapat bermacam seni yang secara umum
termasuk kedalam seni pertunjukkan (straatvertoning), diantaranya
pantun, maen pukulan atau pencak silat ala Betawi. Buka Palang Pintu merupakan
segmentasi acara yang dilakukan adat perkawinan Betawi menjelang
diselenggarakannya akad nikah, dimana terdapat dua pihak yang mewakili mempelai
pria dan mempelai wanita.
Sejak kapan ada tradisi Buka Palang
Pintu di tanah Betawi? Tidak ada dokumen sejarah yang menjelaskan perihal ini.
Kalaupun ada hanya sebatas catatan perjalanan (travel account) Raden
Aryo Sastrodarmo, seorang pelancong ningrat asal Surakarta ke tanah Batavia di
penghujung abad 19, dalam “Kawontenan Ing Nagari Betawi 1865″. Catatan ini
merekam beberapa macam kesenian dalam tradisi perhelatan perkawinan di
zaman itu, termasuk adanya musik gambus yang mengiringi ritual dengan lagu-lagu
berbahasa Arab. Namun sejatinya Buka Palang Pintu sebagai salah satu prosesi
pernikahan adat Betawi lahir bersamaan dengan terbentuknya etnis Betawi itu
sendiri.
Dalam prosesi Buka Palang Pintu,
terdapat konvensi urutan, mulai dari ngarak diiringi shalawat
dustur atau yang lebih dikenal dengan shalawat Nabi, besambut pantun, beklai
(berkelahi-red), dan pelantunan sike (pembacaan ayat Al Quran). Shalawat
dustur diibaratkan sebagai pembuka kata salam dari pihak mempelai
pengantin pria atau tuan raja mude kepada pihak mempelai wanita atau tuan
putri. Besambut pantun merupakan gambaran adat dan kebiasaan masyarakat
Betawi dalam berkomunikasi. Sebuah dialog sampiran-isi antara
kedua pihak mempelai. Sedangkan pencak silat dan pelantunan sike
mempresentasikan pihak mempelai pria yang nantinya sebagai kepala keluarga,
diwajibkan untuk mampu menjadi tempat berlindung dalam hal keamanan dan
bernaung dalam hal kerohanian (sebagai imam).
Adegan beklai atau
perkelahian pencak silat yang menjadi inti prosesi Buka Palang Pintu, sejatinya
tidak harus ada yang menang dan yang kalah. Ketika perkelahian sedang
berlangsung sengit para sesepuh dari kedua mempelai berlakon mendamaikan, sebab
adat Buka Palang Pintu ini diadakan untuk menghantarkan niat baik untuk
menyatukan kedua pihak keluarga dalam satu ikatan pernikahan.
(sumber:kisemprul)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar