Buka Palang Pintu dalam tradisi
masyarakat Betawi yang bersentuhan dengan wilayah kebudayaan Sunda terdapat
sisipan perebutan dandang yang terbuat dari tembaga sebagai media penentuan
pemenang. Dalam tradisi Besambut Dandang ini dandang disandang di
punggung jago pihak mempelai perempuan. Zaman dahulu seorang jago, bobotoh
atau wakil besan, diberi aturan dengan kriteria seorang lelaki yang telah “tengah
tuwuh”, berusia 40 tahun keatas, berpenampilan jantan, bertubuh tinggi
besar, berwajah angker, dan yang terpenting berkumis baplang selayaknya
tampilan jawara secara umum.
Tidak ada perbedaan yang prinsipil
diantara Buka Palang Pintu yang tidak menggunakan dengan yang menggunakan
dandang, hanya saja terdapat penambahan makna dalam bentuk media sebuah
dandang. Dandang tembaga bermakna sebagai lambang dari kekuatan serta kekayaan.
Kekayaan tidak jatuh dari langit begitu saja, tetapi sesuatu yang harus
diusahakan dan diperjuangkan.
Jika ditelaah kiranya tradisi Buka
Palang Pintu yang disisipi Besambut Dandang ini ada pengaruh dari tradisi
masyarakat Sunda, yaitu Adu Jaten Parebut Se’eng (Adu Kejantanan Saling
Merebut Dandang) yang pendukungnya banyak ditemukan di daerah Bogor, Krawang,
dan Bekasi yang notabene berbatasan dengan tanah Betawi
Dalam kebudayaan Betawi, tentu
kita pernah melihat jika ada acara pernikahan selalu disambut dengan palang
pintu Namun, kini palang pintu ini sudah jarang digunakan, apalagi di era
modern seperti sekarang ini. Hal ini sangat disesalkan oleh Bang Nasir salah satu
warga yang masih meneruskan budaya palang pintu ini di wilayah Ulujami
Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Waktu kongkow bareng ki semprul di kediamannya
di bilangan Ciledug Raya Gg. KH. Syatiri.
“Palang pintu udah jarang ditanggap di jaman modern ini. keseringan yang pada punya hajat nikahin anaknya terutama warga Betawi itu sendiri nanggap yang laen, alesannya ogah repot lah, ribed lah. Kayaknya mereka lupa bahkan kadang kaga tau sejarah Palang pintu sendiri. Palang pintu ialah seni budaya dari kebudayaan betawi yang biasa digunakan pada acara pernikahan. Palang pintu itu adalah perwakilan mempelai pria yang akan di tes dengan adu pantun dan beladiri agar bisa menikahi sang mempelai wanita," bang Nasir njelasin.
"Kebanyakan sekarang group-group palang pintu kurang menjiwai pakem palang itu sendiri, karena mereka tidak mau menggali lebih dalam tentang palang pintu itu. Palang pintu iti kayak apa sih? siapa yang maen, anak kecil, orang perempuan boleh gak? terus pantunnya gimana, vulgar, asal-asalan yang penting orang bisa ketawa karena dianggap lucu, pantun jagonya apa bener-bener mewakili sang jagoan itu sendiri apa kaga, ini tidak bisa dianggap maen-maen karena setiap budaya ada pakem-pakem yang tidak boleh dilanggar apalagi dihilangkan. beloon lagi durasinya yang panjang sehingga membikin kesian para penganter (besan). nah semua ini mungkin akan menjadi pemikiran kita dan para pegiat palang pintu untuk lebih bisa mencermati waktu, bahasa dan budaya kita. jangan cuma sekedar ikut-ikutan"
"kira-kira harepan kedepannya gimana menurut abang?".
"Saya berharap agar warga semakin peduli dengan kebudayaan kita sendiri. Banyak anak muda kita yang sudah tidak peduli dengan kebudayaannya sendiri”. Bang Nasir menutup obrolannya bareng kiai semprul.
"saya doain bang, biar abang sehat dan dipanjangin umur biar bisa nurunin ilmu ama pengalaman abang kepada generasi muda kita".
(sumber:kisemprul)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar