Jumat, 03 Oktober 2014

Besambut Dandang

Buka Palang Pintu dalam tradisi masyarakat Betawi yang bersentuhan dengan wilayah kebudayaan Sunda terdapat sisipan perebutan dandang yang terbuat dari tembaga sebagai media penentuan pemenang. Dalam tradisi Besambut Dandang ini dandang disandang di punggung jago pihak mempelai perempuan. Zaman dahulu seorang jago, bobotoh atau wakil besan, diberi aturan dengan kriteria seorang lelaki yang telah “tengah tuwuh”, berusia 40 tahun keatas, berpenampilan jantan, bertubuh tinggi besar, berwajah angker, dan yang terpenting berkumis baplang selayaknya tampilan jawara secara umum.

Tidak ada perbedaan yang prinsipil diantara Buka Palang Pintu yang tidak menggunakan dengan yang menggunakan dandang, hanya saja terdapat penambahan makna dalam bentuk media sebuah dandang. Dandang tembaga bermakna sebagai lambang dari kekuatan serta kekayaan. Kekayaan tidak jatuh dari langit begitu saja, tetapi sesuatu yang harus diusahakan dan diperjuangkan.

Jika ditelaah kiranya tradisi Buka Palang Pintu yang disisipi Besambut Dandang ini ada pengaruh dari tradisi masyarakat Sunda, yaitu Adu Jaten Parebut Se’eng (Adu Kejantanan Saling Merebut Dandang) yang pendukungnya banyak ditemukan di daerah Bogor, Krawang, dan Bekasi yang notabene berbatasan dengan tanah Betawi

 Dalam kebudayaan Betawi, tentu kita pernah melihat jika ada acara pernikahan selalu disambut dengan palang pintu Namun, kini palang pintu ini sudah jarang digunakan, apalagi di era modern seperti sekarang ini. Hal ini sangat disesalkan oleh Bang Nasir salah satu warga yang masih meneruskan budaya palang pintu ini di wilayah Ulujami Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Waktu kongkow bareng ki semprul di kediamannya di bilangan Ciledug Raya Gg. KH. Syatiri.

 “Palang pintu udah jarang ditanggap di jaman modern ini. keseringan yang pada punya hajat nikahin anaknya terutama warga Betawi itu sendiri nanggap yang laen, alesannya ogah repot lah, ribed lah. Kayaknya mereka lupa bahkan kadang kaga tau sejarah Palang pintu sendiri. Palang pintu ialah seni budaya dari kebudayaan betawi yang biasa digunakan pada acara pernikahan. Palang pintu itu adalah perwakilan mempelai pria yang akan di tes dengan adu pantun dan beladiri agar bisa menikahi sang mempelai wanita," bang Nasir njelasin. 

"Kebanyakan sekarang group-group palang pintu kurang menjiwai pakem palang itu sendiri, karena mereka tidak mau menggali lebih dalam tentang palang pintu itu. Palang pintu iti kayak apa sih? siapa yang maen, anak kecil, orang perempuan boleh gak? terus pantunnya gimana, vulgar, asal-asalan yang penting orang bisa ketawa karena dianggap lucu, pantun jagonya apa bener-bener mewakili sang jagoan itu sendiri apa kaga, ini tidak bisa dianggap maen-maen karena setiap budaya ada pakem-pakem yang tidak boleh dilanggar apalagi dihilangkan. beloon lagi durasinya yang panjang sehingga membikin kesian para penganter (besan). nah semua ini mungkin akan menjadi pemikiran kita dan para pegiat palang pintu untuk lebih bisa mencermati waktu, bahasa dan budaya kita. jangan cuma sekedar ikut-ikutan"

"kira-kira harepan kedepannya gimana menurut abang?". 

 "Saya berharap agar warga semakin peduli dengan kebudayaan kita sendiri. Banyak anak muda kita yang sudah tidak peduli dengan kebudayaannya sendiri”. Bang Nasir menutup obrolannya bareng kiai semprul. 

"saya doain bang, biar abang sehat dan dipanjangin umur biar bisa nurunin ilmu ama pengalaman abang kepada generasi muda kita".

(sumber:kisemprul)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar