Kisah ashabul kahfi mungkin tidak asing bagi
kita umat muslim. Karena diceritakan dalam alquran dan sering kita dengar
melalui mulut para penceramah. Terinsprasi dari situlah maka terbentuklah
sebuah komunitas jamaah di langgar kong jaun yang menamakan diri ashabul
qohwah. Entah siapa yang punya inisiatif atau ide, yang pasti hal itu berjalan
secara alamiah.
Bermula sambil menunggu datangnya waktu isya,
sambil mengisi kekosongan diisi dengan diskusi, tepatnya ngobrol bareng soal
keagamaan dan social kemasyarakatan saling berbagi ilmu dan penglaman hidup
ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok.
Ashabul qohwah memang terdiri dari kaum muda
dari latar belakang yang berbeda, baik keilmuan maupun status social. Namun
perbedaan itu disatukan dalam sebuah wadah ukhuwah islamiyah, sehingga semua
berjalan lancer tanpa ada riak diantara mereka.
Ada yang unik pada ashabul qohwah, yakni pada
nama-nama merka yang diawali dari huruf D. yaitu, Doni, darwis, Daroji, Dahlan,
Dulhak dan Dillah.
Doni masih muda, ganteng pinter ngarang, bisa
komputer wawasan agama dan umumya lumayan luas ditambah orangnya rada bares.
Darwis perawakannya sedeng, uban di rambutnya
menandakan kematangan usia. Rajin membaca dan banyak keahlian . Kedekatannya
dengan ustadz menambah pengetahuan agamanya, oleh karena itu dia sering disebut
ustadz photocopy.
Daroji, cukup berumur masih jomblo bukan
karena kaga laku, Cuma belon ada jodohnya padahal Daroji ahli dalam hal
perpompaan aer dan uda punya penghasilan lumayan. Anehnya, walau sudah berumur
tidak satu helai pun uban di kepalanya, karena kepalanya botak.
Dahlan, dari semua ashabul qohwah paling
susah hidupnya, tapi dalam hal keagamaan sering dijadikan rujukan oleh yang
lain. Maklum dia pernah di pesantren walaupun Cuma pesantren kilat. Sering
ditunjuk menjadi imam darurat di langgar itu makanya sering dipanggil imam ban
serep.
Dulhak, paling senior dan dituakan dan banyak
memberikan masukan melalui penglaman hidupnya yang sudah cukup makan sam-garam
kehidupan.
Dillah, diantara ashabul qohwah dia yang
paling payah, lempengan mana aja payah. Satu kelebihannya, ngopi ama
ngerokoknya kuat. Tapi kalau dia lagi azan, yang mendengar pada sedih bukan
karena suaranya merdu, tapi karena suaranya melas kayak tampangnya.
Hari-hari dilanggar tsb selalu ceria dan
semarak dengan adanya ashabul qohwah. Banyak ide-ide cemerlang yang lahir dari
olahpikir mereka salah satunya adalah majalah dakwah ‘Obral’, Obrolan Anak
Langgar.
Dibalik semua itu, ada satu sosok yang selalu
memberikan motivasi yakni sang ustadz yang juga sekaligus ketua langgar dan
guru ngaji tetap. Beliau selalu memback up seuruh aktivtas ashabul qohwah.
Bahkan tak jarang sering keluar dari koceknya buat operasional kegiatan ashabul
qohwah. Karena belaiu paham betul akan fingsi langgar bukan sekedar tempat
sholat dan ibadah lainnya, tapi juga punya fungsi social, dan harus ada
pengkaderan untuk menggantikan tugasnya kelak jika beliau tiada.
Sebagaimana telah kita tahu, bahwa tiada yang
abadi di dunia ini. Hal yang dikawatirkan terjadi, sang ustadz tercinta pergi
untuk selamanya meninggalkan mereka dan menimbulkan perasaan duka yang
mendalam. Rasanya belum banyak ilmu yang dapat diambil namun Allah berkehendak
lain. Inna lillahi wa inna ilahi rojiun.
Setelah kepergian beliau, terjadi perubahan
drastis langgar kong jiun sudah muali sepi karena ashabul qohwah yang dulu
solid sudah semakin berkurang. Doni sibuk dengan pekerjaannya di daerah Cawang
sebagai desainer roti cawing, daroji kini sudah punya kios pompa aer di Taman
Puring, Dulhak menyusul ustadz pulang ke rahmatullah, sedangkan Dillah sibuk
berkelana. Sedangkan pengganti ustadz jauh panggang dari api, ibarat langit dan
bumi .
Kini tinggal Darwis dan Dahlan bedua-duaan.
Namun karena panggilan hati, mereka berdua terus istiqomah memakmurkan langgar
sambil berharap dan berdoa semoga ashabul qohwah yang telah berpulang diberiakan
empat yang layak di sisi-Nya. Dan ashabul qohwah yang lain diberikan kemudahan,
kesehatan dan kesempatan sehingga dapat berkumpul seperti dahulu. Menyemarakkan
langgar yang telah diamanatkan oleh para pendahulu, sambil terus merekrut
generasi muda lainnya sebagai penerus perjuangan. Semoga ashabul qohwah akan
terus hidup dari generasi ke generasi sampai isrofil meniup sangkakala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar