Kamis, 22 Agustus 2013

Ashabul Qohwah

Kisah ashabul kahfi mungkin tidak asing bagi kita umat muslim. Karena diceritakan dalam alquran dan sering kita dengar melalui mulut para penceramah. Terinsprasi dari situlah maka terbentuklah sebuah komunitas jamaah di langgar kong jaun yang menamakan diri ashabul qohwah. Entah siapa yang punya inisiatif atau ide, yang pasti hal itu berjalan secara alamiah.

Bermula sambil menunggu datangnya waktu isya, sambil mengisi kekosongan diisi dengan diskusi, tepatnya ngobrol bareng soal keagamaan dan social kemasyarakatan saling berbagi ilmu dan penglaman hidup ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok. 

Ashabul qohwah memang terdiri dari kaum muda dari latar belakang yang berbeda, baik keilmuan maupun status social. Namun perbedaan itu disatukan dalam sebuah wadah ukhuwah islamiyah, sehingga semua berjalan lancer tanpa ada riak diantara mereka.

Ada yang unik pada ashabul qohwah, yakni pada nama-nama merka yang diawali dari huruf D. yaitu, Doni, darwis, Daroji, Dahlan, Dulhak dan Dillah.

Doni masih muda, ganteng pinter ngarang, bisa komputer wawasan agama dan umumya lumayan luas ditambah orangnya rada bares.

Darwis perawakannya sedeng, uban di rambutnya menandakan kematangan usia. Rajin membaca dan banyak keahlian . Kedekatannya dengan ustadz menambah pengetahuan agamanya, oleh karena itu dia sering disebut ustadz photocopy.

Daroji, cukup berumur masih jomblo bukan karena kaga laku, Cuma belon ada jodohnya padahal Daroji ahli dalam hal perpompaan aer dan uda punya penghasilan lumayan. Anehnya, walau sudah berumur tidak satu helai pun uban di kepalanya, karena kepalanya botak.

Dahlan, dari semua ashabul qohwah paling susah hidupnya, tapi dalam hal keagamaan sering dijadikan rujukan oleh yang lain. Maklum dia pernah di pesantren walaupun Cuma pesantren kilat. Sering ditunjuk menjadi imam darurat di langgar itu makanya sering dipanggil imam ban serep.

Dulhak, paling senior dan dituakan dan banyak memberikan masukan melalui penglaman hidupnya yang sudah cukup makan sam-garam kehidupan.

Dillah, diantara ashabul qohwah dia yang paling payah, lempengan mana aja payah. Satu kelebihannya, ngopi ama ngerokoknya kuat. Tapi kalau dia lagi azan, yang mendengar pada sedih bukan karena suaranya merdu, tapi karena suaranya melas kayak tampangnya.

Hari-hari dilanggar tsb selalu ceria dan semarak dengan adanya ashabul qohwah. Banyak ide-ide cemerlang yang lahir dari olahpikir mereka salah satunya adalah majalah dakwah ‘Obral’, Obrolan Anak Langgar. 

Dibalik semua itu, ada satu sosok yang selalu memberikan motivasi yakni sang ustadz yang juga sekaligus ketua langgar dan guru ngaji tetap. Beliau selalu memback up seuruh aktivtas ashabul qohwah. Bahkan tak jarang sering keluar dari koceknya buat operasional kegiatan ashabul qohwah. Karena belaiu paham betul akan fingsi langgar bukan sekedar tempat sholat dan ibadah lainnya, tapi juga punya fungsi social, dan harus ada pengkaderan untuk menggantikan tugasnya kelak jika beliau tiada.

Sebagaimana telah kita tahu, bahwa tiada yang abadi di dunia ini. Hal yang dikawatirkan terjadi, sang ustadz tercinta pergi untuk selamanya meninggalkan mereka dan menimbulkan perasaan duka yang mendalam. Rasanya belum banyak ilmu yang dapat diambil namun Allah berkehendak lain. Inna lillahi wa inna ilahi rojiun.

Setelah kepergian beliau, terjadi perubahan drastis langgar kong jiun sudah muali sepi karena ashabul qohwah yang dulu solid sudah semakin berkurang. Doni sibuk dengan pekerjaannya di daerah Cawang sebagai desainer roti cawing, daroji kini sudah punya kios pompa aer di Taman Puring, Dulhak menyusul ustadz pulang ke rahmatullah, sedangkan Dillah sibuk berkelana. Sedangkan pengganti ustadz jauh panggang dari api, ibarat langit dan bumi .

Kini tinggal Darwis dan Dahlan bedua-duaan. Namun karena panggilan hati, mereka berdua terus istiqomah memakmurkan langgar sambil berharap dan berdoa semoga ashabul qohwah yang telah berpulang diberiakan empat yang layak di sisi-Nya. Dan ashabul qohwah yang lain diberikan kemudahan, kesehatan dan kesempatan sehingga dapat berkumpul seperti dahulu. Menyemarakkan langgar yang telah diamanatkan oleh para pendahulu, sambil terus merekrut generasi muda lainnya sebagai penerus perjuangan. Semoga ashabul qohwah akan terus hidup dari generasi ke generasi sampai isrofil meniup sangkakala.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar